HADIS

Sunday, 6 May 2012

Adab-Adab Memberikan Nasihat

Di antara adab nasihat dalam Islam adalah menasihati saudaranya dengan tidak diketahui orang lain.Kerana barang siapa yang menutupi keburukan saudaranya,maka Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat.Sebahagian ulama berkata:"Barangsiapa yang menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua,maka itulah nasihat yang sebenarnya.Barangsiapa yang menasihati saudaranya di depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasihati."
   Fudhail Bin Iyadh r.h berkata "Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasihati.Sedangkan orang fasik adalah orang yang merosak dan mencela.
   Al-Imam Ibnu Hibban r.h (wafat th 354H) mengatakan :Nasihat adalah kewajipan seluruh manusia,sebagaimana kami telah sebutkan ,tetapi dalam teknik penyampaiannya harus secara rahasia,tidak boleh tidak.Kerana,barangsiapa menasihati saudaranya di hadapan orang lain,maka bererti ia telah mencelanya.Dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahsia,maka bererti ia telah memperbaikinya.Sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama Muslim adalah kritik yang membangun,lebih besar kemungkinannya untuk diterima daripada penyampaian dengan maksud mencelanya."
   Kemudian Imam Ibnu Hibban r.h menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan,ia berkata :"Saya berkata kepada Mis'ar:"Apakah engkau suka bila ada orang lain memberitahumu akan kekurangan-kekuranganmu?"Ia menjawab:"Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku.maka aku tidak senang.Tetapi bila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasihat,maka aku senang"
   Abu Hatim (Imam Ibnu Hibban) r.h mengatakan:"Nasihat apabila dilakukan seperti apa yang telah kami sebutkan,akan mengeratkan kasih sayang dan menyebabkan terwujudnya hak ukhuwwah (persaudaraan).
   Al-Imam Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa'id Ibnu Hazm r.h (wafat tahun 456 H) berkata :"Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberikan nasihat baik yang diberi nasihat itu suka ataupun benci,tersinggung ataupun tidak tersinggung.Apabila engkau memberikan nasihat,maka nasihatilah secara rahsia,jangan di hadapan orang lain dan cukup dengan memberikan isyarat tanpa terus terang secara langsung kecuali orang yang dinasihati tidak memahami isyaratmu, maka harus secara terus terang.Jangan engkau memberikan nasihat dengan syarat harus diterima darimu.Jika engkau melampaui batas adab-adab tadi maka engkau orang yang zalim,bukan pemberi nasihat dan gila ketaatan serta gila kekuasaan,bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukhuwwah.Ini bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan,melainkan hukum rimba seperti seorang penguasa dengan rakyatnya,dan tuan dengan hamba sahayanya.
Imam asy-Syafie r.h berkata dalam syairnya

" Tutupilah kesalahanku dengan nasihatmu ketika aku seorang diri
Hindari menasihatiku di tengah khalayak ramai
Kerana memberikan nasihat di hadapan banyak orang
Sama saja dengan memburuk-burukkan,aku tidak sudi mendengarnya
Jika engkau menyalahiku dan tidak mengikuti ucapanku 
Maka janganlah engkau kaget bila nasihatmu tidak ditaati."

Dinukil dari : Syarah Arbain An-Nawawi
(Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...