Isnin, 25 Februari 2013
Ahad, 24 Februari 2013
FAQ PENTAKSIRAN BERASASKAN SEKOLAH
| BAHAN | __________ | FORMAT PDF |
| FAQ: PENTAKSIRAN BERASASKAN SEKOLAH (PBS) | MUAT TURUN |
Khamis, 21 Februari 2013
Banyak Ketawa Mematikan Hati !!
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)
Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ
يَتَبَسَّمُ
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau
biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497)
Penjelasan ringkas:
Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam
mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk
banyak tertawa, kerana segala sesuatu yang keterlaluan dan melampaui
batas akan membuat hati menjadi mati. Sebagaimana banyak makan dan
banyak tidur mampu mematikan hati dan melemahkan tubuh, maka demikian
pula banyak tertawa mampu mematikan hati dan melemahkan tubuh. Dan jika
hati sudah mati maka hatinya tidak akan terpengaruh dan terkesan dengan
peringatan Al-Qur`an dan tidak akan mahu menerima nasihat, wal ‘iyadzu
billah.Oleh itu, tidaklah kita temui orang yang paling banyak tertawa kecuali dia adalah orang yang paling jauh dari Al-Qur`an.
Adapun hukum banyak tertawa, maka lahiriah hadits Abu Hurairah di
atas menunjukkan haramnya, kerana hukum asal setiap larangan adalah
haram. Apalagi dinyatakan sebab larangan tersebut adalah kerana mampu
mematikan hati, dan sudah dimaklumi melakukan suatu amalan yang boleh
mematikan hati adalah hal yang diharamkan.
Adapun tertawa sesekali atau ketika keadaan mengharuskan dia untuk
tertawa, maka ini adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, bukan
termasuk tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam jika seorang itu
tertawa sampai terbahak-bahak. Oleh itu tertawa terbahak-bahak adalah
hal yang dibenci walaupun tidak sampai dalam hukum haram, wallahu a’lam.
Rabu, 20 Februari 2013
Ahad, 17 Februari 2013
13 Rules You Did Not Learn In School !!
Here are some basic rules that children should be learning in school, but unfortunately don’t. Not all of these have to do with academics.
Rule #1: Life is not fair. Get used to it. The average teen-ager uses the phrase, “It’s not fair” 8.6 times a day.
Rule #2: The
real world won’t care as much about your self-esteem as much as your
school does. It’ll expect you to accomplish something before you feel
good about yourself. This may come as a shock. Usually, when
inflated self-esteem meets reality, kids complain it’s not fair.
Rule #3: Sorry,
you won’t make $40,000 a year right out of high school. And you won’t
be a vice president or have a car phone either. You may even have to
wear a uniform that doesn’t have a label.
Rule #4: If
you think your teacher is tough, wait until you get a boss. He doesn’t
have tenure, so he tends to be a bit edgier. When you screw up, he’s not
going to ask you how you feel about it.
Rule #5: Flipping
burgers is not beneath your dignity. Your grand-parents had a different
word of burger flipping. They called it “opportunity”. They weren’t
embarrassed making minimum wage either. They would have been embarrassed
to sit around talking about Kurt Cobain all weekend.
Rule #6: It’s
not your parents’ fault. If you screw up, you are responsible. This is
the flip side of “It’s my life,” and “You’re not the boss of me,” and
other eloquent proclamations of your generation. When you turn 18, it’s
on your dime. Don’t whine about it, or you’ll sound like a baby boomer.
Rule #7: Your
school may have done away with winners and losers. Life hasn’t. In some
schools, they’ll give you as many times as you want to get the right
answer. Failing grades have been abolished and class valedictorians
scrapped, lest anyone’s feelings be hurt. Effort is as important as
results. This, of course, bears not the slightest resemblance to
anything in real life.
Rule #8: Life
is not divided into semesters, and you don’t get summers off. Not even
Easter break. They expect you to show up every day. For eight hours. And
you don’t get a new life every 10 weeks. It just goes on and on. While
we’re at it, very few jobs are interesting in fostering
your self-expression or helping you find yourself. Fewer still lead
to self-realization.
Rule #9: Television
is not real life. Your life is not a sitcom. Your problems will not all
be solved in 30 minutes, minus time for commercials. In real life,
people actually have to leave the coffee shop to go to jobs. Your
friends will not be as perky or pliable as Jennifer Aniston.
Rule #10: Be nice to nerds. You may end up working for them. We all could.
Rule #11: Smoking
does not make you look cool. It makes you look moronic. Next time
you’re out cruising, watch an 11-year-old with a butt in his mouth.
That’s what you look like to anyone over 20. Ditto for
“expressing yourself” with purple hair and/or pierced body parts.
Rule #12: You
are not immortal. If you are under the impression that living fast,
dying young and leaving a beautiful corpse is romantic, you obviously
haven’t seen one of your peers at room temperature lately.
Rule #13: Enjoy
your youth time while you can. Sure parents are a pain, school is
a bother and life is depressing but someday you’ll realize how wonderful
it was to be a kid. Maybe you should start now.
By Charles J. Sykes
Printed in San Diego Union Tribune
September 19, 1996
Printed in San Diego Union Tribune
September 19, 1996
Sabtu, 16 Februari 2013
RAJA TANPA BAJU : IKTIBAR UNTUK PEMIMPIN GILA AMPU
Apabila
sekali-sekala kita terasa terlalu ingin dipuji dan apabila yang kita
mahu dengar hanyalah kata-kata yang sedap-sedap sahaja, lebih-lebih lagi
apabila kita mempunyai kedudukan yang tinggi dalam organisasi atau
masyarakat, ditambah pula oleh orang disekeliling kita terdiri daripada
kaki ampu dan ‘bodek’, maka renungilah sejenak kisah raja tanpa bajunya
ini. Cerita pendek turun-temurun ini telah kita dengar sejak di bangku
sekolah rendah lagi. Memang sudah lama, namun iktibarnya dapat kita
manfaatkan sepanjang usia. Bukan sahaja untuk menilai dan memperbaiki
diri kita, malah untuk menilai orang lain, suasana dan perkembangan
semasa.
Kisahnya
bermula dengan seorang raja yang suka berpakaian cantik. Baginda
terlalu gilakan baju dan fesyen baru. Semua tukang jahit dalam negara
pemerintahannya sudah dikerahkan untuk menjahit baju barunya. Sehelai
demi sehelai. Apabila siap sahaja, raja terus memakainya dan muncul di
khalayak ramai. Kembang-kuncup hatinya apabila mendengar pujian rakyat
tentang kecantikan pakaiannya. Itulah saat yang paling bahagia dirasakan
dalam hidupnya. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, itulah karenah raja
tersebut. Dan setiap kali raja muncul dengan pakaian barunya, rakyat
akan mengangguk-anggukkan kepala serta memuji-muji baju raja. Namun
walaupun telah silih berganti fesyen, silih berganti baju, raja masih
belum puas hati lagi. Raja masih merasakan bahawa ada lagi fesyen baru
yang belum dicubanya.
Langgan:
Ulasan (Atom)














